Dari Halalan Thayyiban hingga Inovasi Mie Celor, Ilmu Turun ke Tengah Masyarakat
Gumay, 13 Agustus 2025 — Kantor Desa Gumay siang itu berubah menjadi ruang belajar bersama. Ibu-ibu PKK, jamaah pengajian, para ibu rumah tangga, muda-mudi, perangkat desa hingga Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) duduk berdampingan. Mereka hadir dalam kegiatan Monitoring Mahasiswa dan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Dosen IAIQI Indralaya, sebuah agenda rutin yang menyinergikan peran kampus dengan denyut kehidupan warga.
Acara yang dimulai pukul 13.00 WIB ini dipimpin langsung oleh Ketua Pelaksana, Dr. Novi Ulfa Safitri, M.Pd.I. Sementara itu, sejumlah dosen IAIQI tampil sebagai narasumber, antara lain Tapa’ul Habdin, Lc., M.A., Niswatul Malihah, Lc., M.Ag., Muhammad Wahyudi, M.Pd.I., dan Meirina Alkhoiriah Eka Putri, S.E., M.Si.
Tiga tema besar diangkat dalam diskusi kali ini. Pertama, “Makanan Halalan Thayyiban: Perspektif Al-Qur’an, Fikih, dan Kesehatan Masyarakat”, yang mengupas pentingnya mengaitkan gizi dengan nilai-nilai syariah. Kedua, “Jual Beli Riba: Pendampingan Fiqih Muamalah Masyarakat Desa Gumay”, sebuah materi yang menyoroti praktik ekonomi warga agar lebih sesuai syariat. Dan ketiga, “Peran Perempuan dalam Membuat Inovasi Produk Mie Celor sebagai Income Tambahan IRT”, sebuah gagasan kreatif yang langsung membumi dengan potensi ekonomi rumah tangga desa.
Tidak hanya narasumber, kegiatan ini juga melibatkan fasilitator dari kalangan dosen, yakni Ulfa Khoiriyah, M.Pd.I., Darsi Ahmadan, M.H., Siti Murtosiah, M.Pd., dan Retno Indri Yustika, M.Pd., yang membantu mengarahkan jalannya diskusi dan pendampingan teknis.
“PKM adalah jembatan. Ilmu dari kampus jangan berhenti di ruang kelas, tetapi hadir di tengah masyarakat, menyentuh langsung kebutuhan mereka,” ujar salah satu narasumber, Muhammad Wahyudi.
Kepala Desa Gumay yang turut hadir menyambut baik kegiatan ini, menilai bahwa sinergi akademisi dengan warga dapat membuka wawasan baru sekaligus solusi praktis.
Siang itu, Gumay bukan sekadar desa, melainkan kelas terbuka tempat ilmu, amal, dan kehidupan berkelindan. Sebuah pengingat bahwa pendidikan sejati selalu menemukan rumahnya di tengah masyarakat.