Dari Singkong Biasa Jadi Camilan Bernilai Ekonomi
Gelumbang, 9 Agustus 2025 — Aroma singkong goreng renyah menyeruak dari Balai Desa Gumai, Kecamatan Gelumbang, Muara Enim. Siang itu, suasana balai berbeda dari biasanya. Puluhan ibu-ibu dan remaja putri berkumpul, bukan untuk sekadar arisan atau pertemuan rutin desa, melainkan mengikuti sosialisasi dan pelatihan produksi tela-tela crispy yang digagas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Agama Islam Al-Qur’an Al-Ittifaqiah (IAIQI) Indralaya.
Program unggulan posko 2 ini menghadirkan Aji Ahmad Said, mahasiswa KKN yang tampil sebagai narasumber. Dengan bahasa sederhana, ia mengajak peserta melihat potensi besar singkong, bahan pangan lokal yang selama ini hanya direbus atau digoreng biasa, menjadi camilan kekinian bernilai jual.
Pelatihan berlangsung interaktif. Aji tak hanya menjelaskan teknik pemilihan singkong, perendaman bumbu, hingga cara menggoreng agar renyah dan tahan lama, tetapi juga menyinggung strategi pemasaran sederhana. “Tela-tela crispy bisa jadi peluang usaha rumahan. Modal kecil, bahan mudah didapat, tapi hasilnya bisa menambah penghasilan keluarga,” ujarnya.
Antusiasme terlihat dari wajah para peserta. Mereka bergantian mencoba mengolah singkong, mulai dari mengiris tipis, membumbui, hingga menggoreng dengan teknik yang diajarkan. Tawa sesekali pecah ketika hasil gorengan pertama dicicipi bersama.
Bagi ibu-ibu dan remaja putri Desa Gumai, kegiatan ini bukan hanya soal resep baru, melainkan juga peluang membuka usaha mikro di lingkungan desa. Kepala desa setempat yang ikut menyaksikan pelatihan menilai inisiatif mahasiswa KKN ini sebagai langkah kecil namun berarti dalam memberdayakan masyarakat.
Program ini menegaskan kembali peran KKN bukan sekadar rutinitas tahunan kampus, tetapi wahana nyata mahasiswa mengaplikasikan ilmu, memberdayakan masyarakat, dan membangun kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.
Dari singkong sederhana di ladang warga, lahirlah tela-tela crispy yang renyah dan penuh harapan.